Langkah berani ini diambil dengan menetapkan penggunaan sensor timing AI sebagai standar wajib dalam setiap ajang resmi. Teknologi kecerdasan buatan (AI) yang diintegrasikan ke dalam sistem pencatatan waktu ini bertujuan untuk meminimalisir kesalahan manusia (human error) yang sering kali menjadi pemicu perselisihan di garis finish. Di masa lalu, sistem sensor inframerah konvensional terkadang mengalami kendala saat mendeteksi kendaraan dengan kecepatan ekstrem atau dalam kondisi cuaca tertentu seperti hujan lebat. Dengan sistem berbasis AI, algoritma cerdas mampu memproses data secara real-time, mengenali posisi kendaraan dengan presisi milimeter, dan memberikan hasil yang jauh lebih valid.
Bagi para pembalap dan mekanik di wilayah Lampung, kehadiran standar baru ini memberikan angin segar sekaligus tantangan teknis. Dengan akurasi data yang sangat detail, para mekanik kini bisa menganalisis performa mesin dan traksi ban secara lebih mendalam. Data yang dihasilkan oleh sensor timing AI tidak hanya sekadar angka waktu tempuh, tetapi juga mampu memberikan informasi mengenai reaksi waktu (reaction time) yang lebih akurat serta data kecepatan di titik-titik tertentu sepanjang lintasan. Informasi ini sangat vital bagi tim balap untuk melakukan fine-tuning pada mesin mereka agar bisa kompetitif di level nasional.
Implementasi teknologi ini oleh IMI Lampung juga bertujuan untuk meningkatkan kredibilitas penyelenggaraan event otomotif di mata sponsor dan publik. Sebuah kompetisi yang transparan dan didukung oleh teknologi mutakhir akan menarik lebih banyak minat investasi dari brand-brand besar. Ketika sebuah event drag race memiliki kredibilitas yang tinggi, maka nilai jual dari kejuaraan tersebut juga akan meningkat secara otomatis. Hal ini merupakan bagian dari visi jangka panjang organisasi untuk menjadikan Lampung sebagai barometer baru dalam dunia olahraga motor di Pulau Sumatera, menyamai kota-kota besar lainnya yang sudah lebih dulu mengadopsi teknologi serupa.
Namun, transisi menuju sistem digital yang canggih ini tentu membutuhkan kesiapan dari pihak penyelenggara lokal. Pihak organisasi terus melakukan asistensi dan pelatihan kepada para operator sistem agar mereka mahir dalam mengoperasikan perangkat keras dan perangkat lunak yang terhubung dengan sensor timing AI tersebut. Biaya pengadaan alat memang menjadi salah satu konsiderasi, namun jika dibandingkan dengan peningkatan kualitas dan keamanan yang dihasilkan, investasi ini dianggap sangat sepadan. Penyelenggara yang tidak mampu memenuhi standar ini secara bertahap tidak akan diberikan izin resmi untuk menggelar kejuaraan, demi menjaga marwah dan kualitas kompetisi di daerah.
